10 April 2025
Amerika Serikat//BNnet.Media.Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memakai Tarif Impor untuk mengobarkan perang dagang dengan 60 negara.Pengumuman penetapan tarif tersebut di sampaikan pada hari Rabu (02/04/2025) lalu. Indonesia menjadi salah satu korbannya dengan hantaman tarif 32 persen.
Donald Trump menyebutnya dengan istilah tarif resiprokal alias tarif ‘liberation day’. Besaran tarif tinggi ini resmi berlaku mulai 9 April 2025.Dalam banyak kasus, kawan lebih buruk daripada lawan dalam hal perdagangan. Selama beberapa dekade, negara kita telah dijarah, dirampok, diperkosa, dan dijarah oleh negara-negara dekat dan jauh, baik kawan maupun lawan.
Alasan utama memungut tarif tinggi adalah demi menekan defisit neraca perdagangan AS. Misalnya, perdagangan Amerika dan Indonesia yang tercatat defisit sekitar US$18 miliar. kata Trump, dikutip dari Channel News Asia,pada hari Rabu kemarin (09/04/2025).
Lanjut Trump,Dengan mematok tarif impor tinggi untuk produk-produk Indonesia, ingin neraca perdagangannya impas. Besarnya tarif dipastikan membuat barang dari Indonesia tak menarik lagi atau kalah kompetitif dari negara lain.
Upaya Trump juga memaksa negara lain membeli produk-produk AS lebih banyak. Tujuannya lagi-lagi demi menyeimbangkan neraca perdagangan Amerika yang defisit, bahkan bisa sampai membawa Negeri Paman Sam surplus.
AS bahkan malah menuduh Indonesia menetapkan tarif impor 64 persen untuk produk mereka. Gedung Putih mengklaim tarif sebesar itu berasal dari manipulasi mata uang dan hambatan perdagangan lainnya,” jelasnya
Sementara itu,Menteri Keuangan Sri Mulyani menegaskan, aksi yang dilakukan Presiden Amerika Donadl Trump bukan berdasarkan ilmu ekonomi. Ia menegaskan tingkah orang nomor satu di AS itu murni urusan transaksional.
Tarif resiprokal yang disampaikan oleh Amerika terhadap 60 negara menggambarkan cara perhitungan tarif tersebut, yang saya rasa semua ekonom yang sudah belajar ekonomi tidak bisa memahami (dasar perhitungan tarif Trump).
Ini juga sudah tidak berlaku lagi ilmu ekonomi, yang penting pokoknya tarif duluan.Tidak ada ilmu ekonominya di situ, menutup defisit (perdagangan AS). It’s purely transactional. Enggak ada landasan ilmu ekonominya,” kritik Sri Mulyani pada acara Sarasehan Ekonomi bertempat di Menara Mandiri Sudirman, Jakarta Pusat, pada hari Selasa (08/04/2025) kemarin.***
