10 April 2025
Jakarta//BNnet.Media.Donald Trump memakai Tarif Impor untuk mengobarkan perang dagang dengan 60 negara.Pengumuman penetapan tarif tersebut pada hari Rabu (02/04/2025) lalu. Indonesia menjadi salah satu korbannya dengan hantaman tarif 32 persen.
Indonesia selama ini Indonesia memang mencatatkan surplus perdagangan dengan AS di kisaran US$17 miliar.Data tersebut yang membuat Trump memukul Indonesia dengan tarif tinggi.
Presiden Indonesia Prabowo Subianto menjelaskan,bahwa Indonesia tidak melawan atau melakukan retaliasi selayaknya China yang dibebankan tarif awal 34 persen.Indonesia memilih dengan jalur diplomasi dan negosiasi untuk merundingkan masalah ini.
Presiden menugaskan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dan sejumlah stakeholder lain untuk memimpin negosiasi tersebut. Ada juga perwakilan Kementerian Luar Negeri, Kementerian Perdagangan, sampai Dewan Ekonomi Nasional (DEN) yang bakal ikut mendampingi.Delegasi Indonesia akan bertemu sejumlah pejabat Pemerintah AS pada 17 April 2025 mendatang,” Jelas Prabowo
Prabowo mengatakan,salah satu poin yang akan ditawarkan ke AS dengan istilah bisnis ‘pa po’ atau ‘pekpok’ yang berarti tidak rugi dan tidak untung alias impas.Kita bisa bikin ‘pa po’ (tidak rugi, tidak untung), ada istilah bisnis. Saya tawarkan mereka ‘pa po’. US$17 miliar surplus kita, US$17 miliar kita akan beli dari Amerika. Kita bukan negeri miskin.Indonesia bisa beli (impor) US$17 miliar dari Amerika. Kita butuh LPG US$9 miliar, minyak BBM, kita bisa impor lagi. Kita butuh alat-alat teknologi, rig drilling dari mereka,Indonesia akan membuka Kembali 10 ribu sumur lama dengan teknologi baru. Mungkin 3 item-4 item (komoditas) ‘pa po’. Kedelai, gandum, kapas, pesawat terbang..
Di lain sisi, Prabowo memerintahkan para pembantunya untuk mengubah aturan tingkat komponen dalam negeri (TKDN). Ia menegaskan aturan tersebut yang dipaksakan justru membuat Indonesia semakin tidak kompetitif,” tegasnya 10/04/2025
Di tempat terpisah,Kementerian Keuangan Sri Mulyani menawarkan empat menu untuk meringankan beban pengusaha. Ini juga sejalan dengan komplain yang datang dari United States Trade Representative (USTR) alias Kantor Perwakilan Dagang AS.
Pertama, pengurangan beban 2 persen yang berasal dari reformasi administrasi perpajakan dan bea cukai.
Kedua, pemangkasan tarif pajak penghasilan (PPh) impor dari 2,5 persen menjadi 0,5 persen atau ekuivalen dengan pengurangan beban 2 persen.
Ketiga yang disiapkan adalah penyesuaian tarif bea masuk produk impor. Mulanya, pengusaha dibebankan tarif 5 persen-10 persen dan bakal dipangkas menjadi 0 persen sampai 5 persen.
Sedangkan Keempat, menurunkan tarif bea keluar crude palm oil (CPO) yang ekuivalen dengan pengurangan beban pengusaha sebesar 5 persen. Total empat menu yang ditawarkan Indonesia ini akan mengurangi beban tarif pengusaha sekitar 14 persen dari semula 32 persen.
Bisa mengurangi tarif karena sudah adanya beban tarif (32 persen), selama belum turun dari Amerika, kita akan coba lakukan (pengurangan beban pengusaha).Kami akan terus melakukan reform, terutama di bidang pajak, bea cukai, dan prosedur supaya ini betul-betul mengurangi beban. Sesuai dengan penekanan Bapak Presiden (Prabowo Subianto) ini adalah waktu yang tepat untuk deregulasi dan reform yang lebih ambisius,” jelas Sri Mulyani.***
