BNNet.Online-🇮🇩🤑 Konflik di Timur Tengah dan pemblokiran Selat Hormuz telah mengganggu sekitar 45% jalur perdagangan pupuk global, memaksa banyak negara mencari sumber baru akibat terputusnya rantai pasok utama. Wilayah tersebut merupakan pemasok vital amonia dan urea, sehingga ketidakstabilan di sana mengancam produksi pangan di berbagai belahan dunia.
India menjadi salah satu negara yang paling terdampak dan kini gencar melakukan negosiasi langsung dengan negara produsen dan eksportir utama. Hal ini dimaksudkan agar pemerintah bisa mengamankan pengadaan langsung, bukan menunggu importir atau sektor swasta India membeli dari luar negeri. Dilaporkan para pejabat India telah menghubungi Indonesia, Rusia, Malaysia, Vietnam, Aljazair, hingga Mesir untuk meminta pasokan urea dan amonium fosfat. Pupuk jenis ini penting untuk menanam padi, kedelai, dan jagung yang adalah makanan pokok warga setempat.
“India, pembeli urea terbesar di dunia, kemungkinan akan menunda tender impor karena pihak berwenang berupaya melakukan pembelian langsung dari produsen utama,” kata seorang sumber anonim yang mengetahui masalah tersebut dikutip dari Bloomberg, dikutip Sabtu (4/4/2026).
Di luar itu, pemerintah India juga sedang bernegosiasi dengan negara-negara seperti China, Maroko, Australia, Yordania, Kanada, Finlandia, dan Togo untuk mendapatkan pasokan tambahan. Dikatakan sekitar 16 kedutaan India di luar negeri berkoordinasi erat untuk mengamankan sumber pupuk alternatif tersebut.
Di tengah situasi tersebut, PT Pupuk Indonesia (PIHC) menjamin bahwa stok pupuk domestik tetap aman karena status Indonesia sebagai salah satu eksportir pupuk urea terbesar dengan kapasitas produksi 9 juta ton per tahun. Keamanan pasokan ini membuat Indonesia tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga berperan sebagai penyelamat ekosistem pangan global.
Meskipun harga urea di pasar dunia melonjak hingga dua kali lipat akibat perang, Indonesia tetap kompetitif berkat diversifikasi impor bahan baku kalium dan fosfor. Pemerintah juga telah menyiapkan modal untuk memesan bahan baku lebih awal guna mengantisipasi gejolak harga dan memastikan kelancaran produksi pupuk nasional.
“Sehingga meskipun terjadi gejolak harga urea yang meningkat sebelum perang, dari US$400 dan sekarang sudah mencapai US$800 atau dua kali lipat, tapi kami bisa meyakinkan Bapak-bapak pimpinan dan anggota Komisi XI untuk Indonesia aman,” ujar Direktur PIHC Rahmad kepada wartawan di Gedung Parlemen Senayan (2/4/2026).
Sementara itu, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono mengungkapkan ada enam negara yang ingin impor pupuk dari Indonesia itu di antaranya India, Brasil, Australia, dan Filipina. “Mereka mau impor pupuk dari Indonesia, berapapun dia bayar,” kata Wamentan seusai membuka Konferensi Pupuk Asia 2026 di Nusa Dua (4/4/2026).
Berdasarkan laporan riset BMI, bagian dari Fitch Solutions, negara di kawasan Asia Tenggara sendiri diperkirakan mengalami pertumbuhan konsumsi pupuk. Indonesia menjadi negara dengan pertumbuhan yang signifikan (outperformer).
#Indonesia2045
#Indonesiaemas2045
#Pupuk
Narasumber 😐 📰 detikFinance, ANTARA
(Frey & Lulu Zaerina)
