BELA NEGARA NETWORK
*RABAT –* Inspektur Jenderal Angkatan Bersenjata Kerajaan Maroko (FAR) secara resmi meluncurkan cetak biru modernisasi militer skala besar yang berfokus penuh pada teknologi canggih dan kemampuan kontra-spionase.
Langkah taktis ini mencerminkan komitmen tinggi bela negara militer Maroko dalam memperkuat sistem pertahanan dalam negeri guna menghadapi peperangan era digital dan ancaman siber lintas batas.
*Doktrin Multi-Domain dan Perang Digital*
Menurut dokumen kebijakan yang dirilis pusat kajian strategis, Maroko kini mengarah pada konsep pertahanan Multi-Domain yang menggabungkan darat, udara, laut, antariksa, dan siber. Modernisasi ini bukan sekadar pengadaan alutsista, tetapi membangun kedaulatan industri pertahanan.
Beberapa pilar modernisasi yang sedang berjalan:
– *Kekuatan Udara Presisi:* Pengadaan 25 unit F-16 Block 70/72 Viper yang dijadwalkan tiba 2027 dengan radar AESA APG-83, serta drone tempur Bayraktar Akinci dengan kecerdasan buatan (AI) dan kemampuan electronic warfare. Baykar Turki bahkan membuka pabrik perawatan dan produksi di Maroko pada awal 2025 dengan kapasitas hingga 1.000 unit per tahun.
– *Sistem Pertahanan Udara Berlapis:* Pengoperasian sistem FD-2000 (versi ekspor HQ-9B) dari China dan Sky Dragon-50.
– *Satelit Mata-Mata Generasi Baru:* Kontrak senilai USD 1 miliar dengan Israel Aerospace Industries (IAI) untuk satelit Ofek-13 guna menggantikan satelit Airbus dan Thales, sebagai mata intelijen strategis Maroko.
– *Pusat Uji Teknologi AS-Maroko:* Pada Agustus 2026 lalu, AS dan Maroko menguji rudal jelajah murah jarak jauh di Africa Multidomain Training and Experimentation Center (AMTEC) dekat Tan-Tan, Maroko Selatan – fasilitas yang dibangun Angkatan Darat AS untuk mempercepat adopsi teknologi pertahanan swasta.
*Fokus Kontra-Spionase dan Siber*
Fokus pada kontra-spionase menjadi krusial setelah eskalasi perang siber di kawasan Afrika Utara. Laporan menyebut pada 2021 lebih dari 6.000 target telekomunikasi di kawasan sempat menjadi sasaran spyware canggih Pegasus yang mampu menyadap tanpa interaksi.
Untuk menjawab itu, FAR memperkuat:
1. Unit Cyber Defence khusus yang ditempatkan di wilayah perbatasan utara dekat Ceuta dan Melilla.
2. Pelatihan Electronic Warfare bersama pasukan Cyber AS (US Cyber Command) melalui latihan tahunan African Lion.
3. Pusat Komando Siber FAR dengan kemampuan deteksi intrusi, analisis spektrum elektromagnetik, dan jamming aktif.
Langkah ini mempertegas posisi Maroko sebagai mitra pertahanan utama Non-NATO yang bertanggung jawab, dengan jaringan kemitraan AS, Prancis, Turki, Israel, dan China, sekaligus menjaga kedaulatan dari ancaman siber lintas batas
Red
