Foto : Riana Fathonatul Qoidah,M.Pd
BNnet.online – Belakangan ini, obrolan tentang kecerdasan artifisial (AI) di sekolah terdengar seperti cerita horor: “Jangan-jangan guru bakal digantikan AI.” Tenang. Selama AI belum bisa sabar menghadapi murid yang izin ke toilet tapi belok ke kantin, posisi guru masih aman. Justru sebaliknya, AI hadir bukan untuk menyingkirkan guru, melainkan untuk menguji kesiapan kita beradaptasi.
AI itu ibarat mikrofon. Jika suara kita jernih, mikrofon akan membuatnya terdengar lebih merdu dan menjangkau banyak orang. Namun jika teriakannya tanpa arah, mikrofon hanya akan memperkeras kebisingan. Begitu pula AI dalam pembelajaran. Jika pedagogi guru kuat, AI dapat menjadi asisten yang luar biasa. Tetapi jika cara mengajarnya rapuh, teknologi justru akan memperjelas kelemahan itu.
Masalah muncul ketika AI ditempatkan di kursi yang keliru. AI bukan pengemudi, melainkan penunjuk arah—lebih mirip Waze daripada sopir. Ketika semua tugas, jawaban, dan proses berpikir diserahkan pada mesin, yang kita hadapi bukan generasi cerdas, melainkan generasi brain rot: anak-anak dengan konsentrasi pendek, malas berpikir, dan rasa ingin tahu yang kian menipis. Begitu ada tugas, refleks pertama bukan lagi bertanya atau membaca, melainkan mengetik prompt dan menyalin jawaban.
Padahal, tidak semua proses belajar harus dipercepat oleh teknologi. Ada momen-momen penting yang justru membutuhkan “mode manual”: menulis dengan pulpen, berdiskusi tanpa gawai, membaca perlahan, dan berpikir keras tanpa bantuan instan. Aktivitas-aktivitas ini melatih deep work otot berpikir yang membuat anak mampu bertahan pada masalah, bukan lari dari kesulitan. Pendidikan bukan hanya soal efisiensi, tetapi tentang proses, ketekunan, dan pembentukan karakter.
Di sinilah peran guru menjadi krusial. Guru yang hebat bukan guru yang ant AI, melainkan guru yang tahu kapan teknologi digunakan dan kapan harus disingkirkan sejenak. Guru adalah pawang teknologi yang mampu menjinakkan kecanggihan agar tetap berpihak pada tujuan pendidikan. Belajar koding dan AI bukan untuk menjadikan guru sebagai programmer dadakan, melainkan agar guru tidak kehilangan kendali atas arah pembelajaran.
AI dapat membantu menyusun modul ajar, merancang soal, atau memberi inspirasi metode pembelajaran. Namun AI tidak akan pernah menggantikan sentuhan manusiawi: pelukan penyemangat, tatapan tegas yang membuat kelas mendadak sunyi, atau kepekaan membaca kegelisahan murid. Karena itu, mari tempatkan AI sebagai asisten yang rajin, bukan sebagai joki pendidikan. Setir pembelajaran harus tetap di tangan guru sebab pendidikan sejatinya adalah tentang membentuk manusia, bukan sekadar memindahkan data.
Riana Fathonatul Qoidah,M.Pd, lahir di Semarang, 20 November 1975. Mengenyam pendiidkan sampai S2, Magister Pengkajian Bahasa di UMS Solo. Saat ini sebagai guru Bahasa Inggris di SMP Negeri 3 Paron.
Menggeluti dunia menulis dimulai tahun 2017, hingga sekarang. Baginya setiap gagasan yang belum tertuang adalah peluang untuk diciptakan. Menulis bukan sekedar menunggu inspirasi, melainkan keberanian untuk menghadirkan cerita yang selama ini kita cari (Riana Fathonatul Qoidah,M.Pd)
